kampung-jailoloSore hari di Indonesia Timur tidak berbeda dengan yang ada di Indonesia Barat maupun Tengah. Menjelang senja, masyarakat di perkotaan belomba-lomba turun ke jalan, untuk segera sampai di rumah.

Namun, hal itu berbeda dengan yang terlihat di Jailolo. Nampak, ratusan anak-anak berbondong mendatangi Rumah Tahfidz Bobanehena usai dari sekolah. Bahkan, tak nampak kelelahan di wajah mereka. Bersama teman-teman sebayanya mereka bercerita surah yang akan dimurajaah.

Subhanallah, pemandangan dan riuh rendah menghafal Alqur’an yang terus terdengar setiap harinya di sana. Semangat ini pula yang menembus jarak, waktu dan usia. Pasalnya, warga desa sebelah pun berbondong-bondong untuk ikut mengaji. Mengabaikan, jarak yang tidak dekat maupun usia mereka kini.

“MasyaAllah, saya harus membuat “waiting list” untuk mereka, para calon santri baru. Mengingat kapasitas Rumah Tahfidz yang terbatas,” jelas Pengurus Rumah Tahfid Bobanehena, Ustad Sfyan Labuha.

Ia mengatakan, para santri baru tersebut dari warga yang cukup jauh dari Rumah Tahfidz. Bahkan, ada yang datang dari desa sebelah dengan tergopoh-gopoh.

Ustad Sofyan mencoba mengingat kembali dan bercerita, tiba-tiba sekelompok ibu paruh baya mendatangi Rumah Tahfidz. Nampaknya, mereka usai takziyah di dekat mushola desa. Kemudian mereka berkata dengan antusias,”kami ingin belajar ngaji.” Terdiam dalam senyum Sofyan mendengar yang disampaikan mereka. Memutar otak, dimana dan kapan ia harus menyediakan ruangan untuk mereka di Rumah Tahfidz.

Padahal, saat ini saja sudah ada 6 kelompok pengajian warga Desa Bobanehena dengan rata-rata 20 santri setiap kelompoknya. Mereka pun dari latar yang beragam, dari nelayan, ibu rumah tangga, petani cengkeh, tukang kebun, ojek, sampai marbot mushola.

Senang namun khawatir, yang tengah dirasakan Sofyan. Semangat belajar Alqur’an terus menjamur di tanah Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara ini. Namun, lagi-lagi ia harus mencatat mereka sebagai santri ‘waiting list’.

Alhamdulillah, sejak recovery Jailolo terlaksana, tak sedikit warga sekitar mulai antusias mendaras Alqur’an. Meskipun, pada awalnya harus berhadapan dengan penolakkan beberapa warga. Tapi, saat ini dari anak-anak, pemuda-pemudi, orang tua bahkan manula telah bergabung dalam lingkaran pengajian warga.

“Subahanallah, hanya kata itu yang bisa saya katakan. Melihat yang nampak sekarang dan mengingat yang dahulu. Tak bosan-bosan saya memuji Allah Ta’ala,” terangnya.

Tak hanya 300 rumah yang dibangun untuk warga dan rumah tahfidz yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Saat ini pun, sudah terbentuk Radio Daqu Suara Bobanehena FM. Termasuk, Daqu Preuner untuk diklat pemuda setempat.

InsyaAllah, ini adalah salah satu upaya yang tengah dilakukan PPPA Daarul Qur’an bersama Rumah Tahfidz Centre (RTC) untuk Indonesia. Membina generasi-generasi Qur’ani yang tersebar di 1050 rumah tahfidz di sudut-sudut republik bangsa ini.

redaksi: pppa.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *