Iren sempat terpisah dengan kedua orangtuanya saat likuifaksi menelan ratusan rumah di Desa Petobo, Palu, Sulawesi Tengah akhir September lalu. Hampir 24 jam bocah berusia lima tahun itu mencari ayah dan ibunya di tengah-tengah korban yang masih bertahan hidup pascagempa dan tsunami melanda.

Iren beruntung, bisa kembali bertemu dengan kedua orangtuanya setelah hampir seharian berpisah. Kini, mereka bersama ribuan warga Petobo lainnya masih tinggal di Shelter Darurat yang dibangun PPPA Daarul Qur’an di perbatasan Palu dan Sigi.

Tim medis juga masih standby di posko pengungsian sejak 1 Oktober lalu. Senin (5/10), tim Siaga Bencana (SIGAB) PPPA Daarul Qur’an pun kembali mendistribusikan logistik untuk ratusan kepala keluarga yang kini hanya tinggal di atas tanah beratap terpal.

“PPPA bersama PayTren masih terus menyalurkan bantuan logistik dan memberikan layanan medis untuk para korban. Terima kasih kepada seluruh mitra PayTren dan donatur yang telah terlibat dalam aksi kemanusiaan untuk Sulawesi Tengah,” ujar General Manager Pemberdayaan PPPA Daarul Qur’an, Jahidin.

Mohon doa agar Iren dan anak-anak lainnya serta para korban dapat melewati ujian ini dan mereka bisa kembali mendapakan tempat tinggal layak. PPPA Daarul Qur’an akan terus mendampingi para korban, membangun kesadaran spiritual mereka dan menyelipkan tahfizhul Qur’an dalam setiap kegiatan.

Saat ini PPPA Daarul Qur’an juga tengah membangun masjid di Kampung Qur’an Sadaunta, Desa Namo, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Di desa ini, rumah Qur’an juga akan didirikan lantaran rumah yang jadi tempat bernaung warga hampir seluruhnya hancur  pascagempa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *